“Desa saya ini termasuk salah satu desa yang sangat tertutup karena jarak yang sangat jauh dari pusat kabupaten dengan kondisi jalan yang jelek, tetapi warga kami tetap semangat bekerja dan suatu saat desa kami akan surplus,” ungkap Thomas Loma, Kepala Desa Wae Rasan, Kecamatan Elar Selatan. Hal itu disampaikannya saat mempresentasikan potensi desanya pada kegiatan Pelatihan dan Bimtek Kepala Desa dan Ketua BPD 65 Desa Model di Kabupaten Manggarai Timur di Wisma Arnoldus Kisol, Kamis (09/11).

Untuk itu, kepala desa terpilih akan segera membangun jalan strategis menuju areal persawahan dan perkebunan warga. Jalan yang sama juga merupakan akses menuju lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro. “Kami punya potensi kopi, cengkeh, kakao, vanili, sawah dan air yang menjadi kekuatan kami,” ujarnya. 

Selain membenahi jalan strategis desa, pria 63 tahun ini juga menyampaikan komitmennya untuk meyediakan fasilitas pelayanan public. “Puskesdes saat ini sedang dibangun karena jarak yang jauh menuju Puskesmas Wukir,” ungkap Thomas. Dengan adanya Puskesdes ini, nantinya warga Desa Wae Rasan tidak perlu khawatir lagi bila membutuhkan layanan petugas kesehatan.

Akses untuk sentor Pendidikan juga diprioritaskan untuk meningkatkan sumber daya manusia. Pensiunan Guru ini menyatakan bahwa SMP Negeri X Elar menjadi jawaban akan kerinduan warganya untuk memperoleh akses pendidikan yang lebih mudah. Sebagai pensiunan guru, Thomas berkeyakinan bahwa dengan Pendidikan yang baik maka akan lahir gernerasi penerus yang cerdas. “Merekalah yang nanti menggantikan saya membangun desa Wae Rasan ke arah yang lebih baik,” tegasnya.

Pada saat yang sama Thomas juga mempresentasikan kalender musim yang ada di desanya. Kekurangan air bersih dialami pada bulan Juni, Juli, Agustus hingga bulan September. Sementara untuk ketersediaan pangan, kesulitan mulai dirasakan warga pada bulan Desember hingga bulan Maret setiap tahun. “Kalau masuk Mei sudah aman karena sudah mulai panen,” ujarnya.  Pada bulan Maret, menurut pria 63 tahun ini, warga sering menghadapi persoalan kesehatan berupa kaki gajah. Sehingga untuk mengatasi hal ini maka dibangun Puskesdes yang akan sangat membantu warga desa Wae Rasan untuk mendapat layanan kesehatan.

Persoalan banjir juga menjadi masalah yang sering dihadapi saat musim hujan. “Tahun ini ada korban seorang ibu yang harus kehilangan dua ekor kerbau dan padi 10 ton disapu banjir di sawahnya,” ungkap Thomas. Kejadian ini sudah disampaikan kepada pihak terkait untuk ditindaklanjuti sehingga warga yang mengalami bencana ini bisa sedikit diringankan bebannya.

Sebagai salah satu desa yang bergantung pada hasil komoditas pertanian dan perkebunan, perhatian akan sektor ini menjadi kebutuhan yang mendesak. Untuk jagung, ditanam pada bulan September dan panen pada bulan Desember hingga Januari. Berkaitan dengan Kakao, menurut Thomas, bisa panen sepanjang musim dalam setahun. Kopi biasanya dipanen pada bulan Juli, Agustus dan September. Kemiri pada bulan Juli hingga Nopember setiap tahun.

Kesadaran warga untuk menjadi anggota koperasi terus didorong sehingga mempermudah akses warga untuk mendapat pelayanan keuangan. “Sampai saat ini modal warga kami di koperasi sudah mencapai 150 juta,” ungkap Thomas. Warga sangat antusias menjadi anggota koperasi karena mendapat banyak kemudahan dalam layanan sektor keuangan. “Kami juga sudah ada Gapoktan sebanyak 5 kelompok, dengan jumlah uang ada sekitar 106 juta,” lanjut Thomas. 

Semua potensi yang ada akan terus diberdayakan demi kemajuan desa Wae Rasan dan Kesejahteraan warga. Thomas sebagai kepala desa berkomitmen untuk mengabdi sepenuhnya dan membawa desanya menjadi yang terdepan di Kabupaten Manggarai Timur. Semua itu, bagi pensiunan guru  SD ini akan tercapai dengan terjalinnya kerjasama semua elemen dan sama-sama bekerja keras untuk kehidupan yang lebih baik. “Saya yakin suatu saat nanti desa saya akan surplus,” pungkas Thomas. (kmfkmt)


LOKASI KAMI :