Masyarakat Manggarai diwilayah Timur sejak dulu telah memiliki konsep kesejahteraan yang dikenal dalam terminologi “ Pekosamaraga “. Pekosamaraga menjadi indikator kesejahteraan. Pekosameraga adalah Pesek ( Rumah ), Kopi (Komoditi ekonomi), Sawah (Pangan), Mesin jahit (Pakaian), Radio (Informasi dan komunikasi)   dan Lampu Gas (Energi). Walaupun demikian kesejahteraan masyarakatnya masih berjalan dengan sangat lambat. Hal ini tidak bisa lepas dari kenyataan politik ketika itu. Wilayah Kabupaten Manggarai yang terlampau luas dan keterbatasan anggaran menjadi akar persoalan yang mengakibatkan kesejahteraan menjadi teka teki yang terus terwariskan.

Kabupaten Manggarai Timur lahir dari sebuah perjalanan panjang. Kesadaran ini bahkan telah digagas sejak tahun 60-an. Tahun 2003 berbagai kajian dan lobi politik mulai dilakukan untuk mematangkan langkah pemekaran Kabupaten Manggarai. Kabupaten Manggarai Barat akhirnya lahir pada tahun 2003 melalui UU No 8 Tahun 2003 dengan Labuan Bajo sebagai ibu kota. Perjuangan pembentukan Kabupaten Manggarai Timur tampil kembali dalam panggung politik Pemilukada Kabupaten Manggarai tahun 2005. Pemekaran menjadi isu utama CREDO ( Drs.Chritian Rotok dan DR. Deno Kamelus, SH, MH).

Sumber daya alam yang melimpah dan kekayaan budaya yang dimiliki ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan hidup masyarakatnya. Kerinduan untuk menikmati pelayanan dasar pembangunan dan kesejahteraan menjadi desakan politik yang begitu kuat ketika itu. Alhasil CREDO terpilih menjadi pemimpin baru Kabupaten Manggarai yang dipilih secara langsung oleh masyarakat.  Satu tahun delapan bulan adalah umur waktu perjuangan pemekaran Kabupaten Manggarai. Perjuangan ini pada akhirnya melahirkan Kabupaten Manggarai Timur melalui  Undang Undang No. 36 Tahun 2007 tentang pembentukan Kabupaten Manggarai Timur pada tanggal 10 Agustus 2007.

Pemilu pertama yang demokratis menghantarkan Yoseph Tote dan Agas Andreas menjadi Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Timur untuk menjadi pemimpin pertama diKabupaten Manggarai Timur periode 2009-2014. Berbagai elemen di Kabupaten Manggarai Timur dan Manggarai raya menanti gebrakan pemimpin baru. Kekayaan alam dan budaya yang dimiliki masih menjadi “ mitos pembangunan “yang harus dengan segera ditransformasikan menjadi kesejahteraan bersama masyarakat. Persoalan yang kompleks serta tuntutan untuk segera maju menjadi menjadi anomali politik yang membutuhkan penanganan yang cerdas sekaligus cermat.

Harus diakui masih ada fenomena bahwa beberapa wilayah diIndonesia masih mempraktekan  pembangunan yang cenderung developmentalis dan selalu terkonsentrasi pada pusat kekuasaan. Keterbatasan anggaran pada akhirnya tidak mampu membiayai aktivitas pembangunan yang terlampau luas. Keterisolasian dan kemiskinan lalu menjadi wajah jamak desa di Indonesia.

Yoseph Tote berupaya membawa Kabupaten Manggarai Timur untuk  keluar dari meanstream developmentalis dan memilih  konsepsi dan gebrakan Cengka Ciko sebagai cara pandang dan semangat politik pembangunan. Mayoritas kebijakan pembangunan periode pertama dititikberatkan pada ketersediaan aksessibilitas bagi masyarakat diberbagai sektor. Berlahan lahan pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan mulai menunjukan geliatnya. Dalam kurun lima tahun, kesejahteraan masyarakat terus mengalami kenaikan yang signifikan. 

Dalam kurun lima tahun, permasalahan aksessibilitas diberbagai sektor berhasil dibongkar. Hasilnya cukup membanggakan, berbagai fasilitas dan infrastruktur dibangun dan berlahan lahan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Manggarai di Kabupaten Manggarai Timur. Keberhasilan Gebrakan Konsepsi Cengka Ciko dibawah kepemimpinan Yoseph Tote dan Andreas Agas terlihat dari hasil penelitian AUSAID yang mencatat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Manggarai Timur mencapai 6,04 %. Pencapian ini merupakan yang tertinggi diantara 21 Kabupaten/kota seluruh Indonesia.

Dari aspek kemampuan penyelenggaraan pemerintahan, Kementerian Dalam Negeri memberi apresiasi dengan memberi skor tertinggi dengan nilai 248. Pencapaian lain yang tidak kalah penting adalah berdasarkan penilaian Indeks Kesejahteraan Keluarga, Kabupaten Manggarai Timur berada pada urutan 165 dari 546 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Pertumbuhan koperasi yang sangat cepat dan berhasil membawa Bupati Manggarai Timur Drs Yoseph Tote, M.Si sebagai salah satu tokoh nasional penggerak Koperasi 2013. Berbagai deretan prestasi yang diraih oleh SKPD pada tingkat nasional juga menjadi catatan khusus yang menarik. 

Ekonomi yang mengakar pada kekuatan desa ini telah menarik hadirnya berbagai investasi baru terutama pada sektor pertanian dan perkebunan, peternakan dan perikanan, pariwisata dan pengembangan koperasi. Salah satu keberhasilan yang mewakili citra kekuatan desa diKabupaten Manggarai Timur adalah kopi Manggarai Timur diakui sebagai kopi dengan cita rasa terbaik diIndonesia. Pencapian pencapian ini disertai dukungan pada sektor pendidikan. Aksesibilitas pendidikan mengalami peningkatan yang sangat fantastis.Identifikasi masa depan telah dilakukan, generasi muda yang cerdas disiapkan sebagai  warisan.

Harus diakui arah kebijakan politik tidak bisa lepas dari refleksi dan kecenderungan gagasan  seorang pemimpin.Lahir sebagai anak desa yang terisolir jauh dari jangkauan pelayanan dasar Pemerintah telah membentuk keprihatinan Yoseph Tote terhadap kondisi desa. Sadar dengan kekayaan potensi desa yang ” terpaksa “ tertinggal akibat terbatasnya aksessibilitas. Yoseph Tote tumbuh dengan mimpi membongkar keterisolasian  dan membangun desa. Perjalanan hidupnya kemudian menghantar Yoseph Tote untuk memenuhi takdirnya sendiri untuk mewujudkan impian masa kecilnya.Konsepsi yang digali dari  budaya Manggarai ini kemudian diberi nama Cengka Ciko. Secara harafiah Cengka Ciko bisa dimaknai sebagai Membongkar keterisolasian.    

Dalam berbagai kesempatan Yoseph Tote selalu menyampaikan pentingnya membangun desa.  Desa selalu dirumuskan sebagai rahim lahirnya budaya, sosial, ekonomi dan politik.Percepatan gebrakan Cengka Ciko terus dirajut dengan mendorong partisipasi masyarakat dengan menggerakan solidaritas sosial. Solidaritas sosial ini menjadi salah satu tema yang  mendapat porsi sangat besar dalam berbagai sambutan ataupun pidatonya. Banyak kalangan menilai Yoseph Tote telah mendudukkan sejarah Kabupaten Manggarai Timur dengan tepat.Periode pertama ini dikenal sebagai Periode “ Cengka Ciko “.

Keberhasilan ini tentu saja tidak datang tiba tiba. Tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi. Berbagai rapat koordinasi terus menerus digelar sembari tetap memantau perkembangan lapangan. Metode ini seringkali diformulasikan Yoseph Tote sebagai “Penyamaan persepsi “. Penampilannya  yang sangat sederhana, pendekatan budaya dan komunikasi yang cenderung informal menjadi keuntungan yang semakin memudahkan konsoliodasi pembangunan berjalan dengan cepat.

Konsepsi dan gebrakan Cengka Ciko akhirnya berada pada momentum terbesarnya melalui keberadaan Undang Undang No 6 tahun 2014 tentang Desa. Sinkronisasi program antara Pemerintah Daerah dan Desa diyakini akan lebih mudah dilakukan mengingat pola “ relasi strategis “kabupaten dan desa yang telah terbangun sejak periode pertama. Cengka Ciko sebagai struktur politik pembangunan diKabupaten Manggarai Timur semakin diperkuat dengan “ daya magis budayanya “ melalui revitalisasi peran lembaga adat. Upaya ini tidak semata mata mengembalikan peran penting tokoh tokoh adat dalam pembangunan. Lebih dari itu langkah ini telah melembagakan nilai nilai budaya sehingga pembangunan desa tetap memiliki ciri kebudayaannya.

Cengka Ciko telah menandai perjalan periode pertama Kabupaten Manggarai Timur. kesejahteraan diKabupaten Manggarai Timur tetap memiliki akar akar historis yang lebih dalam dan luas. Oleh karena itu Yoseph Tote selalu mengingatkan, tujuan keberadaan Kabupaten Manggarai Timur adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat Manggarai yang berdiam diKabupaten Manggarai Timur. Secara kultural Kabupaten Manggarai Timur tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari entitas Manggarai.Cengka Ciko telah menjadi bagian yang utuh untuk mewujudkan kesejahteraan bersama dari  sebuah narasi kebudayaan warisan leluhur“ TANAH KUNI AGU KOLE, WAE MOKEL AWON SELAT SAPE SALEN “ dengan Spirit “BANTANG CAMA REJE LELENG, KOPE OLES TODO KONGKOL, NAI CA ANGGIT, TUKA CA LELENG WINTUK MANGGARAI TIMUR “.

 Penulis : Andrianus Patrysius P.Anggo S.Sos ( Anggota BAKOHUMAS Dinas Kominfo )

 

 

 

 

 


We have Android App!

Install Manggarai Timur App for better Browsing

Download

JDIH Manggarai Timur

NEWSLETTER

Please enable the javascript to submit this form

LOKASI KAMI :