ManggaraiTimur, MC- Hari Kesehatan Jiwa Se dunia yang senantiasa diperingati setiap 10 Oktober setiap tahunnya, turut diperingati di Kabupaten Manggarai Timur. Peringatan ini dilaksanakan dengan menggelar Seminar nasional dengan tema, Kesehatan Jiwa di Manggarai Timur, Bebas Pasung, Bongkar Stigma dan Stop Diskrimasi Terhadap Orang Gangguan Jiwa, Kamis, (31/10/2019).

Kegiatan yang dibuka Wakil Bupati Manggarai Timur, Jaghur Stefanus ini, menghadirkan Dr.dr Albert Maramis, SP.KJ (K), dosen Universitas Indonesia serta mantan konsultan WHO Filipina dan Osse Kiki Yusidjaya, S.TS, Penyintas Skizofrenia dan anggota Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia sebagai nara     sumber, serta diikuti Forkompinda, ASN, kepala desa, tokoh agama dan pelajar se Kabupaten Manggarai Timur.

Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur menampilkan data riil kasus orang dengan gangguan jiwa pada tahun 2018. Tercatat 257 orang dengan 30 orang dipasung. Peningkatan ini disinyalir, diakibatkan oleh berbagai tekanan persoalan hidup yang kian kompleks.

Data ini, tentu tidak bisa dianggap sebelah mata. Apalagi persoalan gangguan jiwa, jelas berdampak pada terganggunya produktivitas masyarakat. Tak tinggal diam, pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, hingga saat ini telah menyiapkan pelayanan kesehatan jiwa dasar, yang diselenggarakan terintegrasi dengan pelayanan kesehatan umum, yang sudah dilaksanakan di Puskesmas Borong dan Sita.

“Kita sangat memberikan perhatian serius terhadap isu pelayanan kesehatan jiwa dasar. Puji Tuhan, kita sudah punya dua Puskesmas Borong dan Sita, yang sudah memiliki layanan integrase kesehatan jiwa. Saya berharap, para petugas kesehatan mampu menjalankan SOP pelayanan kesehatan jiwa dengan baik . Karena bagi kita, pembangunan manusia Manggarai di Kabupaten Manggarai Timur, menjadi orientasi dari setiap kebijakan pembangunan. “, ujar Jaghur Stefanus.

Undang Undang NO 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa telah menetapkan empat agenda penting aspek promotive kesehatan jiwa. Pertama, Mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan jiwa masayarakat secara optimal, Kedua, Menghilangkan Stigma, diskriminasi, pelanggaran hak asasi ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa ) sebagai bagian dari masyarakat, ketiga, meningkatkan pemahaman dan peran serta masyarakat terhadap kesehatan jiwa dan yang keempat, meningkatkan penerimaan dan peran serta masyarakat terhadap kesehatan jiwa.

Pater Avent Saur SVD, menjadi salah satu nara sumber yang paling ditunggu peserta seminar. Pendiri Kelompok Kasih Insanis Peduli Orang (KKI) ODGJ ini, berbagi pengalaman pelayanannya sejak tahun 2016. Pelayanan yang dilakukan relawan KKI ODGJ di NTT, membutuhkan dukungan dan komitmen kebijakan pemerintah. “Kita harus kompak menangani persoalan ini. Karena kita membutuhkan fasilitas kesehatan dan ketersediaan obat obatan. Oleh karena itu dukungan pemerintah menjadi penting dalam kerja bersama kita “, ujar Pater Avent Saur.

Salah satu pekerjaan besar Pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia saat ini adalah menghilangkan stigma dan diskriminasi bagi ODGJ dari masyarakat, bahkan oleh keluarga sebagai lingkungan terdekat. Tidak jarang ODGJ seringkali mengalami kekerasan atau ditelantarkan. Padahal dukungan psikologis dan pengobatan yang teratur penderita gangguan jiwa dapat disembuhkan.

Langkah promotive, preventif, kuratif dan rehabilitative, tentu akan menjadi lebih mudah dilakukan, ketika melibatkan berbagai pihak dalam skema kerja bersama. Keluarga, lembaga pendidikan, tempat kerja, masyarakat, fasilitas pelayanan kesehatan, media massa, lembaga keagamaan dan tempat ibadah, lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan, menjadi lingkungan yang harus “ dibidik ” seluruh pihak.

Menyatukan agenda revitalisasi peran lembaga adat, lembaga agama, sosial kemasyarakatan, optimalisasi pembangunan desa, dasawisma, kesehatan, pendidikan, olah raga, pariwisata, informasi dan komunikasi tentu bisa berkolaborasi dalam skema tertentu yang terintegrasi, komperhensif dan berkesinambungan, tentu bisa menjadi jalan terang merawat jiwa.

Agenda pembangunan manusia yang diusung Bupati dan wakil Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas dan Jaghur Stefanus, tentu menjadi harapan, merawat jiwa masyarakat Manggarai di Kabupaten Manggarai Timur. Derajat kesehatan yang bertumbuh baik tentu akan berdampak pada peningkatan daya saing kabupaten Manggarai Timur. Sebaliknya gangguan kesehatan jiwa juga berdampak pada indeks pembangunan manusia atau Human Develompmental Indeks (HDI) dan mempengaruhi daya saing kabupaten Manggarai Timur.

Kabupaten Manggarai Timur tentu memilih pilihan pertama. Sebab periode jalan ketiga pembangunan Kabupaten Manggarai Timur, mengusung spiritualitas SEBER. Merawat jiwa untuk siap berpartisipasi, bekerja keras dan berinovasi mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki. Lebih dari itu, manusia Manggarai di Kabupaten Manggarai Timur adalah ASET masa depan.

( Manggarai Timur/MC / Patrys Anggo )


We have Android App!

Install Manggarai Timur App for better Browsing

Download

JDIH Manggarai Timur

NEWSLETTER

Please enable the javascript to submit this form

LOKASI KAMI :