manggaraitimurkab.go.id - Wilayah pesisir utara Manggarai Timur dianugerahi potensi  alam yang menakjubkan. Keindahan pantai akan memanjakan mata setiap orang yang melewati jalur Reok –Dampek – Pota hingga perbatasan dengan Kabupaten Ngada di Buntal.  Keindahan pasir putih sepanjang bibir pantai, pesona Nanga Lok, keunikan Rana Tonjong dengan teratai raksasa, Rugu, hingga keindahan bukit Nasaret menawarkan sensasi tersendiri bagi penikmat keindahan alam.  Meski demikian potensi-potensi wisata ini belum mampu memberikan dampak ekonomi secara signifikan bagi warga di sepanjang jalur negara ini.

Ada hal menarik lain yang menggugah rasa ingin tahu kami, terutama saat melewati jalur Dampek hingga Jembatan Wae Togong, Bawe, desa Haju Wangi, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur. Hamparan hutan Lamtoro sepanjang jalur ini serta kesibukan beberapa warga diantara tumpukan kayu Lamtoro kering yang tersusun rapih dengan kondisi kulit yang sudah dikupas  memancing rasa penasaran. Ada apa dengan Lamtoro atau yang dikenal warga dengan sebutan Lamentoro di wilayah ini?

Lamtoro atau dikenal juga dengan petai cina atau petai selong adalah sejenis perdu dari suku Fabaceae (Leguminosae, polog-polongan) kerap digunakan dalam penghijauan lahan dan pencehagan erosi. Berasal dari Amerika tropis, tumbuhan ini sudah ratusan tahun diperkenalkan ke Jawa untuk kepentingan pertanian dan kehutanan dan kemudian menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia hingga ke pulau Flores dan di wilayah Manggarai. Tanaman ini banyak dimanfaatkan sebagai pohon peneduh, pencegah erosi, sumber pakan ternak hingga sumber kayu bakar.   

Perjalanan menyusuri pantai utara Manggarai Timur tidak lengkap jika hanya mengincar pesona pariwisata tanpa menengok aktivitas perekonomian warga sepanjang jalur ini. Mengintip perjuangan warga pesisir dalam menambah penghasilan bagi keberlangsungan hidup keluarganya. Merasakan kucuran keringat mereka diantara rimbunnya hutan Lamtoro yang menjadi andalan mereka menambah penghasilan di sela-sela kesibukan utamanya sebagai petani.

Mentari sore itu sudah mulai condong ke barat dan jarum jam menunjukkan pukul 13.50 wita. Cuaca cerah yang panas tidak begitu terasa karena hembusan angin menyejukan, memudahkan kami menyusuri pesisir utara kali ini. Di beberapa titik tampak warga yang sibuk beraktivitas tanpa menghiraukan kendaraan yang melintas. Beberapa pria tampak memotong kayu lalu membelahnya, sementara terlihat juga kaum hawa yang sibuk mengupas kulit kayu yang sudah dipotong tadi. Tidak hanya orang dewasa, beberapa anak juga ikut membantu orangtua mereka mengupas kulit kayu. Tangan-tangan kecil itu begitu lincah menggerakkan parang di tangan, seolah sadar bahwa mereka juga sedang memburu rupiah. Anak-anak usia sekolah ini menghabiskan waktunya bergelut membantu orangtua setelah jam sekolah berakhir sehingga tidak mengganggu haknya mendapatkan pendidikan. Potongan-potongan kayu-kayu tersebut diikat lalu disusun dengan baik di pinggir jalan, menanti datangnya pembeli. Gerakan mereka seolah berlomba dengan mentari yang semakin condong ke barat, mengakhiri tugasnya hari itu menyinari bumi.

Gabriel Tarong, salah seorang warga yang ditemui disela-sela kesibukannya memotong dan membelah potongan kayu mengatakan bahwa masyarakat yang memiliki lahan dan ditumbuhi Lamtoro sangat terbantu secara ekonomi. “kami sangat bersyukur karena punya tanah disini dan ada lamtoro di dalamnya,  tinggal potong kayunya terus cicik (kupas) kulitnya habis itu ada orang yang datang beli sudah,” ujar pria 60-an tahun ini.  “Satu hari kami bisa dapat lima puluh sampai enam puluh ikat untuk satu orang terus satu ikat itu isinya empat atau lima batang, kami jual seribu, sehingga hasil jual kayu ini sangat membantu kami, ” tambahnya.

Lusia, seorang ibu rumah tangga yang juga membantu suaminya mengupas kulit kayu mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir setelah akses transportasi lancar, banyak mobil yang datang untuk membeli kayu api yang dijual warga. Pekerjaan mencari kayu ini mereka lakukan setelah semua aktivitas mengerjakan lahan pertanian selesai dijalankan. “omo poli taungs duat lau uma ga nana, cee hoo hami kawe seng, coo leng kudu tambang koe te weli wicin agu boto ka’eng bo lau mbaru a (setelah pekerjaan di kebun selesai, kami mencari tambahan penghasilan dengan mencari kayu disini).” Baginya, pohon Lamtoro yang tumbuh subur di tanahnya ini adalah berkat yang dianugerahkan dan harus dimanfaatkan agar bisa menambah penghasilan ditengah meningkatnya kebutuhan keluarga.

Tampak juga beberapa ruas jalan yang membelah hutan Lamtoro seluas lebih dari 100 hektar ini. Menurut beberapa warga, ruas jalan itu memang dibuat atas inisiatif mereka sehingga mempermudah kendaraan yang hendak mengangkut kayu bakar untuk dijual ke beberapa wilayah di Manggarai.  Dengan begitu mereka tidak perlu lagi memikul kayu, mengandalkan kekuatan fisik dari tengah hutan ke sisi ruas jalan raya Dampek – Pota sebelum diangkut pembeli.

Hamparan hutan Lamtoro tersebar di delapan lokasi yaitu Lingko Bael, Pau Raja, Raok, Capu Lenci, Mborong, Mbokang, Cembak Loe dan Lingko Golo Orong. Kepala Desa Haju Wangi, Abraham Sapa menyatakan bahwa sebagian besar warga desanya mendapatkan penghasilan tambahan dari mengolah kayu Lamtoro ini. “Hampir semua warga Desa Haju Wangi ini mendapat tambahan penghasilan dari menjual kayu yang tumbuh di lahan milik mereka untuk kayu bakar” jelasnya. Ditambahkannya, desa yang dihuni oleh 229 kepala keluarga ini, sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan dalam beberapa tahun terakhir ini mereka melakukan aktivitas tambahan mengolah kayu Lamtoro. Menurutnya, dalam satu keluarga biasanya tidak hanya suami dan istri saja yang bekerja, tetapi anak-anak mereka dilibatkan untuk mengumpulkan dan mengupas kulit kayu sehingga lebih cepat kering dan lebih cepat menghasilkan uang. “Bisa dibayangkan jika dalam satu hari, satu orang itu paling kurang menghasilkan 50 ikat kayu berarti dia mendapat uang 50 ribu, jadi tinggal kali saja kalau dalam satu keluarga yang bekerja itu sampai empat atau lima orang. Ini penghasilkan yang lumayan bagi warga kami di sini, bahkan sekarang ada warga desa kami yang menjadikannya sebagai mata pencaharian pokok,” ujarnya.

Menurut Abraham kayu hasil olahan warga biasanya langsung dijual kepada pembeli yang datang langsung ke lokasi untuk selanjutnya didistribusikan ke berbagai wilayah di Manggarai. “Biasanya pembeli itu datang dengan mobil pengangkut dan sebagian besar berasal dari Ruteng, Kabupaten Manggarai terus mereka jual lagi sampai di sana untuk kayu bakar.”

Sementara itu, ketika ditanya tentang asal mula tumbuh dan berkembangnya Lamtoro di kawasan yang mencapai ratusan hektar ini, Abraham menyatakan bahwa semua itu merupakan jejak program Nusa Hijau.  “Semua ini berkat jasa Pak Ben Mboi melalui Operasi Nusa Hijau, memang tidak banyak orang disini yang tahu sehingga mereka menganggap kalau kayu ini tumbuh dengan sendirinya, jadi dulu bibit lamtoro ini ditaburkan dari udara terus berkembang seperti yang kita lihat sekarang ini,” pungkasnya.

Sebuah operasi yang digagas oleh Gubernur NTT periode 1978-1988 Brigjen TNI dr. Aloysius Benedictus Mboi, M.P.H atau yang lebih dikenal dengan Ben Mboi, untuk mengatasi kondisi alam yang tandus dan gersang.  Meski operasi Nusa Hijau itu berlangsung puluhan tahun yang lalu namun manfaatnya masih boleh dirasakan warga pesisir utara Manggarai Timur. (kmfkmt)


We have Android App!

Install Manggarai Timur App for better Browsing

Download

JDIH Manggarai Timur

NEWSLETTER

Please enable the javascript to submit this form

LOKASI KAMI :